Inter Island Trip 4 : BALI

Senja merona di pantai kuta diBalik awan melepuhkan bianglala, menyisakan warna tanpa jelaga  di lekuk tubuh perempuan asing yang terbakar surya, anak kecil membawa dupa, gadis Bali merangkai bunga, menaruh sesajen ditanggga pura, tangan tertangkup diatas dada, kepala menunduk mengheningkan cipta, menghaturkan sembah sujud kepada para dewa.
(Denpasar, Agustus 2016)

pantai kuta, Bali


Selamat pagi Bali

Kota Denpasar dipagi buta, bus merapat di Terminal Ubung, teriakan demi teriakan sopir angkot, calo, tukang ojek, supir taksi dan jenis lainnya dari spesies mereka membangunkan tidur singkatku, perjalanan gilimanuk ke Denpasar memakan waktu sekitar lima jam, tapi jangan harap bisa tertidur lelap diantara himpitan penumpang, dikursi tempat duduk saya yang kapasitasnya dua orang malah diisi tiga orang, jadilah kami berhimpitan, ada mas dan mbak jawa disamping saya, pasangan muda mudi!, yang menyebalkan mbak jawa yang rambutnya di cat kuning macam sabut kelapa ini malah mengambil posisi tiduran dengan badan menyamping kesisi kursi, memakan banyak porsi tempat duduk, jadilah saya hanya kebagian setengah pantat saya kursi bus, dan sebagian lagi saya tahan pakai ransel yang tidak cukup menjadi solusi, sebab ransel nya lebih rendah daripada kursi bus. Saya tidak tau apa mereka suami istri atau pacaran, lagipula saya tidak tertarik mengetahuinya lebih jauh.dari percakapan singkat saya tau mas ini baru mudik ke jawa dan kemBali lagi ke Bali untuk bekerja ditoko katanya.  Saya juga sempat bertanya tarif angkutan umum dari Terminal Ubung ke kuta tujuan kami, katanya biasa Rp 30.000,- sama persis seperti informasi dari bapak petugas pelabuhan ketapang, yang juga saya Tanya hal yang sama waktu menunggu feri berangkat.
Turun dari bus, dengan pandangan yang masih berkunang menahan kantuk, harus menghadapi situasi yang tidak begitu menyenangkan, berhadapan dengan supir supir, calo dan sejenisnya, yang mengerubuti pintu keluar bus macam semut mengerubuti gula. Dan tabiat mereka benar benar buruk, memaksa, ransel saya ditarik tarik, suara mereka tinggi tinggi, saya di bentak bentak oleh mereka mereka ini, tidak terdengar aksen Bali, sepertinya bukan orang Bali, mungkin orang jawa, tapi kasar sekali wataknya. Setau saya orang jawa dikampung saya lembut lembut tutur bahasanya. Tapi kali ini, seperti berada di terminal di Sumatra saja. Benar benar membuat darah mendidih, tapi tetap kau harus berpikir rasional, tidak lucu jika kau babak belur dikeroyok mereka hanya demi menunjukkan ke”sumateraan”mu. Padahal yang sebenarnya saya juga kecut melihat tampang seram mereka. Saya hanya mengatakan tidak, sambil menjauh meninggalkan mereka, menuju kerumunan orang orang yang banyak sedang beristirahat di kursi kursi tunggu. Jam diponsel saya pukul empat dini hari, sudah saya cocokkan waktunya sewaktu pemeriksaan KTP di check point pelabuhan gilimanuk tadi. Bali sudah masuk zona waktu Indonesia bagian tengah, artinya lebih cepat satu jam dari WIB. Ini penting jangan lupa cocokkan waktu di jam mu, tidak lucu jika kau ketinggalan pesawat hanya karena beRpatokan dengan waktu di arlojimu yang belum dicocokkan. Hari juga masih gelap, saya hanya tertarik ingin melanjutkan tidur saya yang tertunda di bus tadi, diruang tunggu ini sedikit lebih baik dari pada di bus tadi, ada kursi panjang dari besi stainless khas ruang tunggu, saya mulai berselonjor mencoba mengintirahatkan tubuh yang lelah ini. Baru saja hendak terlelap gangguan datang, bapak bapak sopir taksi, berbaju biru, berbadan besar, mulai mengoceh didepan saya, kali ini orang lokal penduduk Bali merayu saya dengan aksen Bali yang untuk pertama kali saya dengar ditanah asalnya. Lebih lembut dengan intonasi nada bicaranya yang naik turun dengan ritme yang bergelombang. Tidak kalah dengan para tukang becak di jogja, bapak ini juga punya semangat yang sama, memenawarkan jasanya sampai saya terlelap kelelahan meladeni tawarannya, dari mulai buka harga Rp 150.000,- 130.000, 100.000, sampai harga terakhir yang saya dengar sebelum terlelap adalah 80.000. kemudian saya tidak ingat lagi sebab terlena di serang kantuk dan lelah yang amat sangat.
terminal ubung, denpasar, Bali

Terminal Ubung Denpasar yang saya dengar memang punya reputasi buruk dikalangan pelancong berdana cekak seperti saya, bahkan ada cerita ekstrim penumpang ditodong pisau lalu digiring ke bus pilihan mereka. kalau kamu tidak begitu suka dengan situasi seperti ini, sebaiknya bawa duit yang banyak. Naik pesawat disambut kaRpet bandara, dijemput limousine kemudian disambut manajer hotel bintang tujuh yang  ramah beserta stafnya yang cantik jelita, lalu beristirahat di president suite room yang ada kolam jacuzzinya. Ah menyenangkan sekali membayangkan jika saya punya banyak uang. Sebuah suara disertai tepukan dibahu membuyarkan mimpi saya yang sedang beRpesta bersama rekan bisnis di kolam renang rooftop hotel berbintang tentu saja dengan para gadisnya.
“boi..bangun boi, sudah terang, sudah jam enam, kemana nih tujuan kita?”
Ternyata partner saya membangunkan tidur saya yang sedang bermimpi indah, hari memang sudah terang, sepertinya angkot sudah beroperasi, kami beranjak keluar meninggalkan terminal, menyebalkan jika harus berhadapan lagi dengan para laskar terminal, maksud saya para sopir, kondektur, dan lain sebagainya. Ternyata keadaan tak berubah lebih baik dari pada tadi malam, dipintu keluar Terminal Ubung, kami harus berhadapan lagi dengan segerombolan tukang ojek, yang langsung mengemuni kami, dan berungkali saya mengatakan tidak, tapi sepertinya susah sekali bagi mereka memahami kata “tidak”, terus saja menguntit, mengekor dibelakang kami sambil terus merayu dan memanipulasi pikiran kami, bahkan terus menguntit kami sampai kami berada disisi seberang jalan. Saya kesal, tukang ojeknya pun kesal dan hampir saja terlibat kontak fisik, berakhir dengan kontak mata saling mengintimidasi jiwa masing masing, hanya menunggu masing masing dari kami menarik pelatuknya. Tapi itu tak terjadi. Sepertinya tukang ojeknya menyerah dan meninggalkan kami dengan rasa kesal. Ia bertahan dengan tawaran 100.000 sampai kuta, bayang kan dengan angka itu kami dengan leluasa bisa naik taksi dengan nyaman, daripada motor butut rombengnya, bedebah!
Ahirnya angkot hijau lewat dan tanpa di stop berhenti sendiri, dari penampilan kami dengan menggendong backpack besar, celana kargo, sepatu hiking, memakai kupluk dengan kemeja flannel kotak kotak, cukup mudah untuk mengidentifikasi kami sebagai backpacker, mungkin penampilan ini yang membuat kami selalu jadi target. Yang beRpenampilan biasa saja tanpa atribut ini misalkan para pekerja atau orang kuliah biasanya mereka abaikan. Tapi Mereka melupakan satu hal, backpacker orang yang cerdas, mereka melakukan riset mendalam sebelum terjun ke jalanan, mereka punya itinerary, mereka punya disiplin anggaran dan semua yang dibutuhkan untuk survive sampai tujuan. Untuk menipu mereka bukanlah hal mudah.
“pak..ke legian kuta, berapa duit pak?”
“seratus aja mas”
“enampuluh” saya menawar sambil mengangkat lima jari tangan, dan satu jempol kiri
“ayo..brangkat” tak perlu berpikir lama pak sopir angkot setuju
Kami dturunkan di monumen bom Bali, groud zero di jalan legian, kuta. Suasana pagi masih terasa sepi, tidak tampak terlalu banyak akktifitas, mungkin warga kotanya sedang terlelap setelah mengerahkan segenap energi beRpesta pora semalam suntuk. Inilah legian yang saya tau, sebagai sentralnya industry pariwisata Bali, pusat hiruk pikuk Bali, adalah janntungnya wisata Bali, mungkin itulah latar belakang Bali dipilih menjadi target terorisme internasional. Klimaksnya tragedy bom Bali ditahun 2002, dengan 202 korban jiwa, menyeret amrozi cs, yang didakwa sebagai pelakunya, harus tamat riwayatnya didepan regu tembak. dampak paling masiv adalah lesunya perekonomian Bali, pasca bom setiap Negara Negara di dunia mengeluarkan larangan kunjungan ke Bali bagi warganya demi alasan keamanan. tapi sekarang Bali sudah pulih sepenuhnya, dari luka yang berdarah darah di masa lalu. Dan sekarang saya berdiri di sini, didepan monumen yang di bangun sebagai tugu peringatan, area yang dulunya adalah paddy’s club. Bangunannya berbentuk seperti tembok menjulang tinggi, dengan arsitektur berukiran khas Bali, ada pagar stainless mengelilingi munemennya dibagian dalam ada panel berisi nama nama korban bom. Tempat nya tidak begitu terawat, bangunannya ada yang mulai berlumut, air mancurnya mati, dan beberapa lampu penerangannya juga mati. Mumpung suasana sedang sepi, sebaiknya mengambil gambar untuk kenang kenangan.
tugu peringatan tragedi bom Bali oktober 2002

Persis di sebarang monument ternyata di sinilah gang yang saya cari cari di internet, jalan poopies lane 2, kawasan backpacker, tempat banyak penginapan murah. Jalannya sedang direnovasi, batu, pasir, gorong gorong, dan macam macam material bangunan berserakan sepanjang jalannya. Benar benar mengganggu kenyamanan para pelancong. Jalan sekitar tigaratus meter, penginapan yang saya cari ada dihadapan saya. Losmmen arthawan. Penginapan paling laris juga paling terkenal dikalangan backpacker, dan mereka mengklaim sebagai penginapan termurah di kawasan legian yang prestisius, lumayan murah juga untuk lokasi yang strategis cukup jalan sepuluh menit sudah sampai di pantai kuta, nyaman untuk beristirahat tidak terganggu dengan hiruk pikuk dunia malam kuta, bangunannya juga artistic khas Bali, ada patung patung, pohon pohon, taman, kolam koi, sperti komplek perumahan saja, mungkin ini juga rumah penduduk yang di sewakan. Kami menempati kamar 3, persis di samping resepsionis, dua ranjang tidur, kamar mandi dalam, dan ceiling fan, bahasa indonesianya kipas angin yang menempel di langit langit ruangan, terkadang memang lebih simple menggunakan bahasa inggis. Harga kamarnya Rp 100.000,- untuk dua bed dan Rp 70.000,- untuk single bed.
losmen arthawan, jln pooppies lane 2, legian, Kuta, Bali

Dan Disnilah kami, terdampar dipulau dewata, pulau seribu pura, dengan sejuta pesonanya yang menunggu untuk di eksplorasi. Saya pikir tidaklah berlebihan menobatkan Pulau Bali sebagai pulau wisata terbaik kedua di dunia pada 2015 setelah Kepulauan Galapagos, Ekuador, versi majalah Travel and Leisure. Bali adalah paket lengkap dari sebuah industry pariwisata. Alam, budaya, sejarah, spiritual dan keramahtamahan penduduknya. Dengan bahasa sederhana semua genre pariwisata ada di Bali, ingin memperdalam spiritualitas datanglah ke Bali, setiap hari kau akan selalu bersukur terbangun menyaksikan panorama panorama menyejukkan mata, dari bawah laut sampai puncak gunung tak pernah kehabisan ide untuk menjelajah Bali, beach walking, surfing, diving, snorkeling, island hoping, rafting, trekking, hiking, climbing, mountaineering, camping begitu istilah orang asing untuk menggambarkan aktifitas yang bisa dilakukan di Bali.
lets surfing

Tak sabar ingin segera menjamah Bali yang eksotik, mari kita tidur

Tepar, terkapar tanpa daya dikasur losmen yang nyaman. Kasur ternyaman yang pernah saya temui, mungkin dari semua kasur diseluruh dunia. Percayalah semangatmu ingin terus menjelajah, tapi tubuhmu tidak sependapat dengan otakmu. Ketika terbangun baru saya sadari, ternyata kasurnya keras sekali.

bonussss....!!

liat pantat sampe bego...buahaaahaaaaaaa...

Previous
Next Post »