Senja merona di
pantai kuta diBalik awan melepuhkan bianglala, menyisakan warna tanpa
jelaga di lekuk tubuh perempuan asing
yang terbakar surya, anak kecil membawa dupa, gadis Bali merangkai bunga,
menaruh sesajen ditanggga pura, tangan tertangkup diatas dada, kepala menunduk
mengheningkan cipta, menghaturkan sembah sujud kepada para dewa.
(Denpasar, Agustus
2016)
![]() |
| pantai kuta, Bali |
Selamat pagi Bali
Kota Denpasar dipagi buta, bus merapat di Terminal
Ubung, teriakan demi teriakan sopir angkot, calo, tukang ojek, supir taksi dan
jenis lainnya dari spesies mereka membangunkan tidur singkatku, perjalanan
gilimanuk ke Denpasar memakan waktu sekitar lima jam, tapi jangan harap bisa
tertidur lelap diantara himpitan penumpang, dikursi tempat duduk saya yang
kapasitasnya dua orang malah diisi tiga orang, jadilah kami berhimpitan, ada
mas dan mbak jawa disamping saya, pasangan muda mudi!, yang menyebalkan mbak
jawa yang rambutnya di cat kuning macam sabut kelapa ini malah mengambil posisi
tiduran dengan badan menyamping kesisi kursi, memakan banyak porsi tempat
duduk, jadilah saya hanya kebagian setengah pantat saya kursi bus, dan sebagian
lagi saya tahan pakai ransel yang tidak cukup menjadi solusi, sebab ransel nya
lebih rendah daripada kursi bus. Saya tidak tau apa mereka suami istri atau
pacaran, lagipula saya tidak tertarik mengetahuinya lebih jauh.dari percakapan
singkat saya tau mas ini baru mudik ke jawa dan kemBali lagi ke Bali untuk
bekerja ditoko katanya. Saya juga sempat
bertanya tarif angkutan umum dari Terminal Ubung ke kuta tujuan kami, katanya
biasa Rp 30.000,- sama persis seperti informasi dari bapak petugas pelabuhan
ketapang, yang juga saya Tanya hal yang sama waktu menunggu feri berangkat.
Turun dari bus, dengan pandangan yang masih
berkunang menahan kantuk, harus menghadapi situasi yang tidak begitu
menyenangkan, berhadapan dengan supir supir, calo dan sejenisnya, yang
mengerubuti pintu keluar bus macam semut mengerubuti gula. Dan tabiat mereka
benar benar buruk, memaksa, ransel saya ditarik tarik, suara mereka tinggi
tinggi, saya di bentak bentak oleh mereka mereka ini, tidak terdengar aksen Bali,
sepertinya bukan orang Bali, mungkin orang jawa, tapi kasar sekali wataknya.
Setau saya orang jawa dikampung saya lembut lembut tutur bahasanya. Tapi kali
ini, seperti berada di terminal di Sumatra saja. Benar benar membuat darah
mendidih, tapi tetap kau harus berpikir rasional, tidak lucu jika kau babak
belur dikeroyok mereka hanya demi menunjukkan ke”sumateraan”mu. Padahal yang
sebenarnya saya juga kecut melihat tampang seram mereka. Saya hanya mengatakan
tidak, sambil menjauh meninggalkan mereka, menuju kerumunan orang orang yang
banyak sedang beristirahat di kursi kursi tunggu. Jam diponsel saya pukul empat
dini hari, sudah saya cocokkan waktunya sewaktu pemeriksaan KTP di check point
pelabuhan gilimanuk tadi. Bali sudah masuk zona waktu Indonesia bagian tengah,
artinya lebih cepat satu jam dari WIB. Ini penting jangan lupa cocokkan waktu
di jam mu, tidak lucu jika kau ketinggalan pesawat hanya karena beRpatokan
dengan waktu di arlojimu yang belum dicocokkan. Hari juga masih gelap, saya
hanya tertarik ingin melanjutkan tidur saya yang tertunda di bus tadi, diruang
tunggu ini sedikit lebih baik dari pada di bus tadi, ada kursi panjang dari
besi stainless khas ruang tunggu, saya mulai berselonjor mencoba
mengintirahatkan tubuh yang lelah ini. Baru saja hendak terlelap gangguan
datang, bapak bapak sopir taksi, berbaju biru, berbadan besar, mulai mengoceh
didepan saya, kali ini orang lokal penduduk Bali merayu saya dengan aksen Bali yang
untuk pertama kali saya dengar ditanah asalnya. Lebih lembut dengan intonasi
nada bicaranya yang naik turun dengan ritme yang bergelombang. Tidak kalah
dengan para tukang becak di jogja, bapak ini juga punya semangat yang sama,
memenawarkan jasanya sampai saya terlelap kelelahan meladeni tawarannya, dari
mulai buka harga Rp 150.000,- 130.000, 100.000, sampai harga terakhir yang saya
dengar sebelum terlelap adalah 80.000. kemudian saya tidak ingat lagi sebab
terlena di serang kantuk dan lelah yang amat sangat.
![]() |
| terminal ubung, denpasar, Bali |
Terminal Ubung Denpasar yang saya dengar memang
punya reputasi buruk dikalangan pelancong berdana cekak seperti saya, bahkan
ada cerita ekstrim penumpang ditodong pisau lalu digiring ke bus pilihan
mereka. kalau kamu tidak begitu suka dengan situasi seperti ini, sebaiknya bawa
duit yang banyak. Naik pesawat disambut kaRpet bandara, dijemput limousine
kemudian disambut manajer hotel bintang tujuh yang ramah beserta stafnya yang cantik jelita,
lalu beristirahat di president suite room yang ada kolam jacuzzinya. Ah
menyenangkan sekali membayangkan jika saya punya banyak uang. Sebuah suara
disertai tepukan dibahu membuyarkan mimpi saya yang sedang beRpesta bersama
rekan bisnis di kolam renang rooftop hotel berbintang tentu saja dengan para
gadisnya.
“boi..bangun boi, sudah terang, sudah jam enam, kemana nih
tujuan kita?”
Ternyata partner saya membangunkan tidur saya
yang sedang bermimpi indah, hari memang sudah terang, sepertinya angkot sudah
beroperasi, kami beranjak keluar meninggalkan terminal, menyebalkan jika harus
berhadapan lagi dengan para laskar terminal, maksud saya para sopir, kondektur,
dan lain sebagainya. Ternyata keadaan tak berubah lebih baik dari pada tadi
malam, dipintu keluar Terminal Ubung, kami harus berhadapan lagi dengan
segerombolan tukang ojek, yang langsung mengemuni kami, dan berungkali saya
mengatakan tidak, tapi sepertinya susah sekali bagi mereka memahami kata “tidak”,
terus saja menguntit, mengekor dibelakang kami sambil terus merayu dan
memanipulasi pikiran kami, bahkan terus menguntit kami sampai kami berada
disisi seberang jalan. Saya kesal, tukang ojeknya pun kesal dan hampir saja
terlibat kontak fisik, berakhir dengan kontak mata saling mengintimidasi jiwa
masing masing, hanya menunggu masing masing dari kami menarik pelatuknya. Tapi
itu tak terjadi. Sepertinya tukang ojeknya menyerah dan meninggalkan kami
dengan rasa kesal. Ia bertahan dengan tawaran 100.000 sampai kuta, bayang kan
dengan angka itu kami dengan leluasa bisa naik taksi dengan nyaman, daripada
motor butut rombengnya, bedebah!
Ahirnya angkot hijau lewat dan tanpa di stop
berhenti sendiri, dari penampilan kami dengan menggendong backpack besar,
celana kargo, sepatu hiking, memakai kupluk dengan kemeja flannel kotak kotak,
cukup mudah untuk mengidentifikasi kami sebagai backpacker, mungkin penampilan
ini yang membuat kami selalu jadi target. Yang beRpenampilan biasa saja tanpa
atribut ini misalkan para pekerja atau orang kuliah biasanya mereka abaikan. Tapi
Mereka melupakan satu hal, backpacker orang yang cerdas, mereka melakukan riset
mendalam sebelum terjun ke jalanan, mereka punya itinerary, mereka punya
disiplin anggaran dan semua yang dibutuhkan untuk survive sampai tujuan. Untuk
menipu mereka bukanlah hal mudah.
“pak..ke legian kuta, berapa duit pak?”
“seratus aja mas”
“enampuluh” saya
menawar sambil mengangkat lima jari tangan, dan satu jempol kiri
“ayo..brangkat” tak perlu
berpikir lama pak sopir angkot setuju
Kami dturunkan di monumen bom Bali, groud zero di
jalan legian, kuta. Suasana pagi masih terasa sepi, tidak tampak terlalu banyak
akktifitas, mungkin warga kotanya sedang terlelap setelah mengerahkan segenap energi
beRpesta pora semalam suntuk. Inilah legian yang saya tau, sebagai sentralnya industry
pariwisata Bali, pusat hiruk pikuk Bali, adalah janntungnya wisata Bali,
mungkin itulah latar belakang Bali dipilih menjadi target terorisme
internasional. Klimaksnya tragedy bom Bali ditahun 2002, dengan 202 korban jiwa, menyeret amrozi cs, yang didakwa sebagai
pelakunya, harus tamat riwayatnya didepan regu tembak. dampak paling masiv
adalah lesunya perekonomian Bali, pasca bom setiap Negara Negara di dunia mengeluarkan
larangan kunjungan ke Bali bagi warganya demi alasan keamanan. tapi sekarang Bali
sudah pulih sepenuhnya, dari luka yang berdarah darah di masa lalu. Dan sekarang
saya berdiri di sini, didepan monumen yang di bangun sebagai tugu peringatan,
area yang dulunya adalah paddy’s club. Bangunannya berbentuk seperti tembok
menjulang tinggi, dengan arsitektur berukiran khas Bali, ada pagar stainless mengelilingi
munemennya dibagian dalam ada panel berisi nama nama korban bom. Tempat nya
tidak begitu terawat, bangunannya ada yang mulai berlumut, air mancurnya mati,
dan beberapa lampu penerangannya juga mati. Mumpung suasana sedang sepi,
sebaiknya mengambil gambar untuk kenang kenangan.
![]() |
| tugu peringatan tragedi bom Bali oktober 2002 |
Persis di sebarang monument ternyata di sinilah
gang yang saya cari cari di internet, jalan poopies lane 2, kawasan backpacker,
tempat banyak penginapan murah. Jalannya sedang direnovasi, batu, pasir, gorong
gorong, dan macam macam material bangunan berserakan sepanjang jalannya. Benar benar
mengganggu kenyamanan para pelancong. Jalan sekitar tigaratus meter, penginapan
yang saya cari ada dihadapan saya. Losmmen arthawan. Penginapan paling laris juga
paling terkenal dikalangan backpacker, dan mereka mengklaim sebagai penginapan
termurah di kawasan legian yang prestisius, lumayan murah juga untuk lokasi
yang strategis cukup jalan sepuluh menit sudah sampai di pantai kuta, nyaman
untuk beristirahat tidak terganggu dengan hiruk pikuk dunia malam kuta, bangunannya
juga artistic khas Bali, ada patung patung, pohon pohon, taman, kolam koi, sperti
komplek perumahan saja, mungkin ini juga rumah penduduk yang di sewakan. Kami menempati
kamar 3, persis di samping resepsionis, dua ranjang tidur, kamar mandi dalam,
dan ceiling fan, bahasa indonesianya kipas angin yang menempel di langit langit
ruangan, terkadang memang lebih simple menggunakan bahasa inggis. Harga kamarnya
Rp 100.000,- untuk dua bed dan Rp 70.000,- untuk single bed.
![]() |
| losmen arthawan, jln pooppies lane 2, legian, Kuta, Bali |
Dan Disnilah kami, terdampar dipulau dewata,
pulau seribu pura, dengan sejuta pesonanya yang menunggu untuk di eksplorasi. Saya
pikir tidaklah berlebihan menobatkan Pulau Bali sebagai pulau wisata terbaik
kedua di dunia pada 2015 setelah Kepulauan Galapagos, Ekuador, versi majalah
Travel and Leisure. Bali adalah paket lengkap dari sebuah industry pariwisata. Alam,
budaya, sejarah, spiritual dan keramahtamahan penduduknya. Dengan bahasa
sederhana semua genre pariwisata ada di Bali, ingin memperdalam spiritualitas
datanglah ke Bali, setiap hari kau akan selalu bersukur terbangun menyaksikan
panorama panorama menyejukkan mata, dari bawah laut sampai puncak gunung tak
pernah kehabisan ide untuk menjelajah Bali, beach
walking, surfing, diving, snorkeling, island hoping, rafting, trekking, hiking,
climbing, mountaineering, camping begitu istilah orang asing untuk
menggambarkan aktifitas yang bisa dilakukan di Bali.
![]() |
| lets surfing |
Tak sabar ingin segera menjamah Bali yang eksotik,
mari kita tidur
Tepar, terkapar tanpa daya dikasur losmen yang
nyaman. Kasur ternyaman yang pernah saya temui, mungkin dari semua kasur
diseluruh dunia. Percayalah semangatmu ingin terus menjelajah, tapi tubuhmu
tidak sependapat dengan otakmu. Ketika terbangun baru saya sadari, ternyata
kasurnya keras sekali.
bonussss....!!
![]() |
| liat pantat sampe bego...buahaaahaaaaaaa... |






ConversionConversion EmoticonEmoticon