sebuah kisah TENTANG PERJALANAN

Hidup adalah perjalanan, sampai tuhan berkata waktunya pulang keharibaannya, semua tentang perjalanan, kisah terbaik lahir dari perjalanan, menemukan diri, menjadi bijak dengan mengumpulkan serpihan serpihan hikmah yang berserakan diperjalanan, lalu kemudian pulang membawa bekal untuk kehidupan selanjutnya, perjalanan adalah untaian cerita penuh makna yang abstrak, Merangkak, duduk, berjalan lalu berlari begitulah fase dalam setiap bentuk perjalanan kehidupan. Terus bergulir tak pernah berhenti barang sejenak. Menangis atau tertawa, hitam atau putih, baik atau buruk, bising atau sunyi, menjerit atau bungkam hanyalah bagian kecil dari setiap sisi kehidupan. menurutku, seepisode kisah hidup merupakan sebuah perjalanan,dan bukanlah tujuan akhir . Hidup tak ubahnya kanvas tanpa warna yang diciptakan tuhan untuk kita warnai seindah mungkin. Memang hidup tak semudah mewarnai lukisan, namun bukankah manusia adalah mahluk yang paling mulia diantara mahluk lainnya, tuhan menginginkan kita bijak dalam menempuh perjalanan ini. Selalu bersyukur atas kehidupan yang Tuhan pilihkan untuk kita adalah salah satu upaya menciptakan keindahan dalam hidup ini. Maha Besar Kuasa-Nya yang telah menciptakan segala sesuatunya secara sempurna dan berimbang.

perjalanan
Ku layangkan pandangan melalui kaca jendela,,dari tempatku bersandar seiring lantun kereta, merangkak perlahan meninggalkan stasiun Lempuyangan, meninggalkan kota raja dengan semua kenangannya..ada semacam kesenduan dipagi yang begitu cerah! Matahari bersinar dengan jumawanya,,suara kerontang gerbong kereta ditingkahi deru mesinnya seolah membawa ingatan ini menjelajah semesta.. melihat keluar jendela hamparan sawah menghijau, sungai berbatu, dan perbukitan,,jauh jauh dan semakin jauh, kereta in membawaku membelah tanah jawa, ribuan kilo, melintasi tanah asing, menemui suku suku berbeda, dengan bahasa ibu mereka yang membuat keningku mengerenyit mencerna maksudnya, dan keramah tamahan mereka! Ini akan jadi perjalanan yang panjang dan melelahkan, lima belas jam dikereta, menempuh jarak sekitar enam ratus kilometer! dijadwalkan kereta tiba malam hari pukul sembilan malam! Dari jogja dengan tujuan akhir Banyuwangi, nama keretanya seri tanjung, saya menempati gerbong ekonominya, cukup nyaman sebelum ahirnya saya kewalahan dengan AC nya yang super dingin, bayangkan saja satu gerbong sepanjang kurang lebih 20 meter, di dinginkan dengan enam unit ac dengan kapasitas 1pk, dinginnya naudzubillah..saya menciut disudut bangku kereta, mantel buluku tak berdaya melawan hawa dinginnya, entah bagaimana saya bertahan sebab ini aka berlanjut selama lebih kurang limabelas jam..oh god

Sebangku dengan saya ada ibu ibu paruh baya berkacamata, katanya mau Mojokerto ada acara pernikahan keluarga, saya tidak tau mojokerto itu ada dimana, katanya disana ada istana peninggalan majapahit, juga ada museum manusia purba di zaman pra-sejarah. Ah tak taulah seperti apa, sepengetahuan saya Majapahit itu lebih seperti dongeng, atau cerita rakyat, sangat hebat, besar, kuat merajai angkatan laut nusantara, ceritanya seperti itu, tapi jangan berharap banyak kau akan menemui peninggalan peninggalan hebat seperti imperium besar di jaman nya, seperti kebesaran Dinasti Ming dengan Tembok China yang bisa kita lihat hari ini, atau sepertri kekaisaran Romawi dengan Colloseum dijantung Roma, atau seperti kesultanan Mughal di Delhi dengan Taj Mahal yang termasyur, atau Kesultanan Ottoman dengan kota tua Istanbul nya yang megah. Majapahit? Ah saya pikir orang orang terlalu berlebihan tentang kebesarannya.

Beliau cukup aktif bernarasi, dan saya cukup mendengarkan saja, sesekali bertukar cerita. sampai ia cerita panjang lebar tentang kehidupannya, keluarganya, anak anaknya! Ia punya empat anak perempuan, dari dua kali pernikahan, pernikahan pertama mengalami perceraian setelah mengunjungi candi prambanan, ya setelah mengunjungi prambanan seperti katanya! Begitu hebatnya kutukan Bandung Bondowoso! Saya tidak percaya tapi tak mau menyinggungnya dengan mendebatnya, yang saya tau ada banyak pasangan yang tidak memperdulikan mitos itu, juga banyak turis asing dengan keluarga dan anak anak mereka berkunjung ke Prambanan! Ya mungkin saja setelah pulang kenegaranya keluarga mereka akan berantakan! Saya tidak tau! satu hal yang saya suka dari mitos ini, adalah pesan moral yang ingin disampaikan, seolah orang tua dulu menciptakan cerita ini dengan satu pesan lugas, "candi ini tempat suci, jangan lah kau nodai dengan tindakan asusila" makanya lahirlah mitos itu, jangan bawa pacar ke candi prambanan.
Ternyata ibu ini juga pedagang oleh oleh semacam kaos, pakaian dll di Malioboro dan janji kalau nanti saya kembali ke Jogja akan memberikan diskon! Cari saja lapaknya! Dan satu hal lagi, ibu ini janji akan mencarikan kami wanita jika nanti kami kembali ke jogja, katanya dia punya semacam tempat hiburan seperti karaoke begitulah! Saya kembali teringat bapak tukang ojek di Bandung, Yang menawarkan jasa wanita juga! lagi lagi wanita..sepertinya beginilah adanya industri pariwisata, sebuah industri yang tak bisa dipisahkann dengan dunia prostitusi! Mungkin suatu saat kau tertarik ingin mengubahnya menjadi pariwisata yang islami tanpa prostitusi, terdengar sangat rumit! Seperti ide menghapus keberadaan lembaga pemasyarakatan saja! Tapi bukankah ide besar, akan menjadikanmu orang besar!

Di seberang bangku kereta yang lain, tepat diseberang saya, sekelompok anak muda ada lima orang yang sama sekali tak terganggu dengan dinginnya ac, anak muda yang kuat! Dari percakapan sesama mereka saya tau tujuan mereka sama dengan saya.. bali! Bedanya mungkin mereka punya teman di bali yang siap jemput ditujuan! Bagaimana dengan kami? Entahlah, pikirkan saja nanti di lapangan! Dari percakapan mereka yang elu gua, elu gua, sepertinya mereka dari Jakarta, tapi tak tau lah, jaman sekarang semua orang pakai bahasa Jakarta untuk terlihat keren! Bahkan ada anak melayu ditempatku yang bangga menggunakan bahasa Jakarta, mendengarnya membuat perutku melintir pingin buang air! Seharusnya kita patut berbangga dengan bahasa Indonesia, bukan bahasa Jakarta!.. ada yang menarik dari sekelompok anak muda ini, beberapa diantaranya sangat religius, bahkan mereka masih sangat muda untuk terlihat religius! Bukannya itu bagus? Beberapa diantaranya tetap menjalankan ibadah sholat meski ditengah lantun kereta, diantara himpitan penumpang, saya seolah tersadar seperti apa seharus nya kita mengamalkan agama dengan benar, sepertinya saya mesti banyak belajar dari perjalanan ini.

anak muda yang religius
Smentara perjalanan ini semakin menyiksa dengan suhu gerbong yang semakin dingin, benar benar tak tahan saya memutuskan keluar gerbong mencari kehangatan di celah gerbong kereta, terasa lebih baik, sampai petugas keamanan kereta memaksa saya untuk kembali ke tempat duduk dan dengan sangar tidak bisa mentolerir alasan saya yang tak tahan kedinginan. Kembali kedalam gerbong ternyata tempat duduk saya sudah terisi penumpang lain, dan tentu saja lebih sesak berhimpitan, dan si ibu yang tujuan mojokerto tadi sudah menghilang, yang duduk dihadapan saya sekarang adalah bapak bapak dan ibu paruh baya dengan wajah khas jawa di pedesaan, memakai peci dan mengenakan batik jawa juga celana hitam bahan kain, dan satu ibu muda lagi duduk disebelah saya, mau ke banyuwangi katanya, ada acara keluarga. Banyak cerita yang bisa mereka bagi selama perjalanan, sedikit membunuh waktu memecah kebosanan diperjalanan ini, bapak bapak dan ibu yang lebih tua di hadapan saya lebih banyak bercerita tentang masa mudanya dulu waktu sempat bekerja di bali, dan beliau berbagi informasi tentang situasi beberapa decade yang silam, tentu saja jauh dari relevan! Sementara ibu muda di sebelah saya ceritanya lebih relevan, saya rasa ia adalah generasi yang dibesarkan di era 90-an, dan ia pribadi yang menarik, supel, ramah dan sedikit kesamaan dengan saya, beliau adalah seorang traveler juga, dimasa mudanya ia bercerita tentang hobinya menjelajah daerah daerah baru, saya sangat bersemangat menyimak penuturannya, beliau pernah touring dengan sepeda motor lintas jawa – bali, sempat hiking, kemping, dan beragam aktifitas petualangan yang menarik untuk disimak, saya berkesimpulan, ibu ini menghabiskan masa mudanya dengan kebahagiaan, sepertinya masa mudanya sangat menyenangkan! Dan beliau sangat merekomendasikan kami untuk melihat fenomena paling spektakuler di dunia yang hanya ada di Indonesia, ialah blue fire di kawah ijen banyuwangi, yang juga adalah tempat asal nya.

Percakapan demi percakapan mewarnai perjalanan ini, keluh kesah, kritik, berbagi cerita dan pengalaman, membawa kami jauh melintasi stasiun demi stasiun, membelah pulau jawa jauh menempuh ribuan kilometer, untuk kemudian kereta merapat di stasiun gubeng Surabaya, cukup lama untuk mengganti arah lokomotifnya, merubah jalur kearah banyuwangi.

Surabaya, ah siapa menyangka ternyata saya berkesempatan menginjakkan kaki di kota ini, kota yang penting di wilayah timur pulau jawa, kota terbesar kedua setelah ibukota Jakarta! Bapak bapak dan ibu paruh baya tadi mulai mengeluarkan bekal makan siang yang mereka bawa dari rumah. Dan mulai menyajikan didepan saya, bersikeras menawari saya makan, bagian dari keramahtamahan orang jawa. Ada nasi putih yang dibungkus daun pisang, sementara lauknya telur rebus dengan bumbu cabai merah, saya tidak lapar, juga tidak tega menghabiskan jatah makan mereka, mungkin bekal itu juga untuk perhentian selanjutnya, jadi sesopan mungkin saya mencoba menolak keramah tamahan mereka, meski pasangan suami istri itu terus menawari saya dengan keramahan yang tulus! Sebenarnya perut saya juga sudah kenyang, bolak balik ke kantin kereta sedari pagi tadi, pesan pop mi, pesan kopi, terakhir nasi goreng yang dikemas rapi seharganya Rp 24.000,- mahal juga. Niatnya sih bukan mau makan, tapi menghindar sejenak dari ac gerbong yang dingin luar biasa, sebab di kantin ac nya tidak begitu dingin. Benar benar licik pihak keretanya, saya benar benar curiga ini bagian dari strategi penjualan mereka dengan mengorbankan kenyamanan pelanggan. Makanan habis kami dipaksa lagi angkat kaki dari kantin dan kembali lagi kedalam gerbong yang rasanya seperti masuk dalam kulkas, sepanjang hari hanya itu yang kami lakukan berulang ulang dalam jeda yang singkat, gerbong, toilet, kantin begitu seterusnya.
setidaknya mereka lebih hangat
Lewat tengah hari kereta beranjak meninggalkan stasiun gubeng Surabaya, melintasi padatnya Surabaya, pemukiman, pertokoan, gedung gedung, untuk kemudian pemandangan kumuh perkotaan berganti dengan sejuknya pemandangan pedesaan, sawah menghijau, gunung gunung membentuk siluet membiru, sedikit kelabu dibayangi awan sore, ah pemandangan yang saya suka dari setiap perjalanan. Kereta terus melaju menagambil arah selatan melintasi beberapa stasiun ditimur jawa sampai stasiun terakhir Banyuwangi Baru, dipesisir ujung timur pulau jawa menghadap selat Bali.

surabaya gubeng
Pukul Sembilan malam kereta sri tanjung merapat di stasiun terakhirnya, banyuwangi baru, yang letaknya di pesisir timur paling ujung dari pulau jawa, penat seharian dikereta lebih dari empatbelas jam di perjalanan, sedikit melepas penat otot otot tubuh kami berjalan kaki meninggalkan stasiun, mengekor arah turis turis yang sudah pasti tujuan bali. Dengan ransel penuh muatan, yang beratnya menyiksa, kami menyusuri jalan yang akan membawa kami ke dermaga feri untuk menyebrang selat bali. Pelabuhan ketapang banyuwangi, Setiap harinya, ratusan perjalanan kapal feri melayani arus penumpang dan kendaraan dari dan ke Pulau Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk di Bali. Rata-rata durasi perjalanan yang diperlukan antara Ketapang - Gilimanuk atau sebaliknya dengan feri ini adalah sekitar 1 jam

Sampai di dermaga membeli tiket feri seharga rp 6000,- Tanya Tanya petugas bagaimana cara efektif sampai denpasar, ahirnya dapatlah informasi, sebaiknya langsung naik bus dari pelabuhan ketapang ini, biar tidak repot cari bus lagi jika nanti merapat di pelabuhan gilimanuk, lebih menghemat waktu dan rute perjalanan, sebab bus yang di angkut oleh feri dari pulau jawa, biasanya langsung menuju terminal ubung, denpasar. Sebaliknya jika sampai pelabuhan gilimanuk, baru akan cari bus biasanya akan repot, bus nya masih kosong, dan akan menunggu bangku bangkunya terisi penuh oleh penumpang barulah berangkat, dan rutenya juga tidak langsung ke terminal ubung, tetapi keterminal mengwi, jauh di utara denpasar dan harus diteruskan dengan menaiki angkot untuk sampai ke ubung, dengan estimasi waktu tempuh dari gilimanuk sekitar lima jam, maka di prediksi sampai mengwi sekitar pukul empat dinihari, tak ada angkot yang beroperasi di jam itu, jadi saya rasa keputusan kami bijaksana.

stasiun diujung timur pulau jawa
Ahirnya kami beli tiket bus seharga rp 50.000,- tujuan terminal ubung denpasar. Bus ini asalnya dari jember jawa timur dan sudah penuh muatan, sesak dengan penumpang, bahkan di jalur bagian tengah akses untuk keluar bus juga di isi bangku tempat duduk, sementara di bagian belakang di penuhi muatan barang, dalam karung yang menumpuk, mungkin beras atau apalah. Busnya benar benar kacau, rombeng dan sangat panas, udara panas semakin menjadi sewaktu bus memasuki lambung kapal feri, say keluar dari bus untuk mencari udara segar, menaiki tangga kapal menuju lantai atas, dan benar saja di dek atas feri susananya benar benar ramai dengan penumpang, ada yang berkaraoke, ada yang menonton televisi, ada yang tertidur disebelah speaker yang membahana

suatu malam di selat bali
Diatas sini udara nya lebih nyaman dari pada terkurung di bus, angin laut membelai wajah ku saat berdiri di pagar buritannya, mulai menyulut rokok dan menghirupnya dalam dalam lalu kemudian menghempaskannya perlahan, kepulan kepulannya sejenak menari untuk kemudian sirna dihantam angin buritan, mata menatap nanar keseberang lautan, kerlap kerlip lampu kota berbinar diseberang pulau sana, sementara riak gelombang bergemuruh dibawah buritan, diaduk baling baling kapal, meninggalkan buih buih memutih yang tak berdaya mengejar laju kapal, seperti kehidupan yang dipermainkan takdir.
Previous
Next Post »