Inter Island Trip 3 JOGJA (selesai)

sebelumnya
SENJA MERAH DI PRAMBANAN
      Sebuah malam di kotaraja, lebih semarak dengan berbagai atraksi seniman jalanan yang begitu atraktif terutama di kawasan titik nol jogja, titik Nol Kilometer merupakan tempat dimulainya segala kisah tentang Jogja. Di persimpangan ini kamu bisa melihat Jogja secara utuh. Jogja yang semrawut namun syahdu, Jogja yang modern namun tetap mempertahanan budaya lokal, Jogja yang mencipta kelu namun juga rindu. Berada tepat di jantung kota Jogja, kawasan ini selalu ramai dilewati orang setiap harinya. Titik Nol Kilometer adalah denyut nadi Jogja. Banyak gedung bergaya art deco yang menjadi landmark kota jogja, ada gedung Bank Indonesia, Gedung BNI, dan Gedung Kantor Pos Besar. Tepat di depan gedung Kantor Pos Besar, ada Monumen Serangan 11 Maret yang digunakan sebagai tempat pergelaran seni dan budaya. Di belakangnya ada Benteng Vredenburg Sedangkan di seberang Benteng ada Istana Kepresidenan Gedung Agung.
     Dimalam hari dikitari gedung gedung klasik peninggalan kompeni dengan penerangan redup lampu neon dengan nuansa kuning nan syahdu, suasana yang pantas dirindukan dari jogja, setidaknya menurut orang yang sempat tinggal lama dikota ini..saya baru pertama kali kesini, tak tau sama sekali akan kesan dari jogja yang banyak orang katakan sebagai kota kenangan, yang saya tau kota ini benar benar hidup dimalam hari, benar benar semarak, musisi jalanan, pertunjukan jalanan, aneka jajanan, dan tentu saja angkingan khas jogja.    
Berangkat dari penginapan dengan trans jogja, turun di halte taman pintar, jalan sedikit ke titik nol, dan disinilah tumpah ruah, penuh sesak dipadati pengunjung..disini tempat berkumpulnya orang muda jogja, dan mengekspresikan diri dengan segala kreatifitas yang ada, ada cosplay prajurit keraton, kostum iron man lengkap dengan lampu senter didadanya, ada hulk dengan kain rombengnya dan banyak lagi pertunjukan jalan lainnya, cara yang kreatif menghasilkan uang! Berbagai komunitas di Yogyakarta juga  ikut meramaikan kawasan Titik Nol Kilometer. Datanglah sore atau malam hari untuk melihat pertunjukkan mereka.  Ada komunitas fotografi, komunitas sketching, komunitas sepatu roda, komunitas sepeda BMX, dan lain lain..
titik nol
     Menelusuri  jalan ini kau akan sampai di malioboro, jalan paling terkenal  di kota ini..menginspirasi banyak pelancong untuk mendatanginya.. Melintang sepanjang 1 kilometer dari utara ke selatan, Malioboro tak ubahnya nafas  yang membuat  Jogja lebih  bernyawa. Malioboro tidak hanya bercerita tentang transaksi penjual dan pembeli, sebab diruas jalanan ini penuh dengan penjual oleh oleh, namun terselip juga romantisme dan rindu yang biru, ah lagi lagi saya bermetafora, padahal berkunjung ke kota ini baru kali pertama, bagaimana kau bisa bicara tentang rindu, anggap saja saya mewakili perasaan mereka yang punya kenangan dengan jalan ini...
   Banyak yang mengambil gambar dengan latar lampu jalan yang ada tulisan “jln malioboro” nya, tak peduli pagi buta, tengah hari bahkan malam hari ada saja manusia yang berfoto di plang jalan ini, tentu saja untuk pamer mereka ada dijogja, bagus juga memotivasi teman mereka untuk keluar meninggalkan rumah dan mereguk hikmah perjalanan..saya tidak ikut ikutan, hanya tertarik mengambil gambar kuda yang menarik andongnya, ada rasa iba melihat binatang ini, kerja keras, siang malam demi menghidupi majikannya, kudanya kurus kerempeng  sampai kelihatan garis rusuknya..dan di malioboro ada banyak sekali delman delman seperti ini, jika tidak delman ya becak, sepertinya jogja memang dikondisikan untuk pariwisata demi memberdayakan warga lokalnya.  Setau saya Cuma itu pilihan transportasinya, angkot mana ada, sejak masuk jogja belum kelihatan batang hidungnya
delman, andong, sado, apa bedanya..yang saya tau itu kereta kuda
       Disisi lain malioboro ditengah kerumunan orang orang dan suara tetabuhan yang tidak jelas riuh rendah timbul tenggelam ditelan suara kendaraan, saya mendatangi sumber suaranya..ternyata adalah pertunjukan seni jalanan, dengan alat  musik tradisional yang dipadu dengan peralatan modern, seperti gitar dan drum, juga pakai sound system..banyak yang nonton sampai berulang kali diperingatkan petugas sebab mengganggu lalu lintas! Pentunjukanya memang menarik Menggunakan alat musik tradisional menyerupai angklung, musisi jalanan ini akan menggelar konser tiap malam,memainkan  lagu dangdut hingga koplo, macam di organ tunggal kawinan saja.ada juga penonton yang tak tau malu ikut berjoget didepan, tepatnya bapak tua yang sudah bau tanah berjoget joget sesuka dia macam orang mabuk tuak, dia pikir dialah artisnya.dan ada mc nya berbaju merah macam orang cina juga wajahnya, pandai  menari perut, juga menggerakkan dadanya, yang jadi masalah dianya laki laki, gemulai macam tak bertulang..Sebagai bentuk apresiasi, jangan lupa masukkan uang seikhlasnya ke dalam keranjang..
      Malam beranjak larut, sepanjang ruas mallioboro para pedagang mulai mengemasi barang dagangannya, sekitar pukul Sembilan malam, sepertinya trans jogja juga sudah berhenti beroperasi, pilihannya tinggal becak untuk kembali ke penginapan di prawirotaman, memang agak jauh, mungkin besok kita akan cari penginapan yang dekat dengan malioboro saja! Untuk malam ini kita akan naik becak, tapi bukan tenaga manusia melainkan tenaga mesin, ya naik bentor..serupa dengan becak bedanya yang ini pakai sepeda motor bukan sepeda. Ada banyak becak mangkal di kawasan titik nol, depan monument sebelas maret..kali ini tukang becaknya masih muda dan sangat interaktif dengan kami penumpangnya, Tanya dari mana, mau kemana, asli mana..sekali dijawab malah bingung dia, wawasan nusantaranya buruk sekali, mas ini tidak tau daerah asal kami Bangka itu ada di bagian mana negeri ini, bahkan belum pernah dengar ada tempat dengan nama seperti itu, bagaimana tidak menyebalkan? Padahal banyak saudara saudaranya orang jawa merantau di tanah melayu tempat asal kami..ya sudahlah mungkin pulau kami memang tidak terlalu terkenal, kunjungan wisata juga baru  mengalami peningkatan sejak beberapa tahun terakhir ini saja terhitung sejak 2008, saat novel lascar pelangi karya budak melayu belitung diangkat ke layar lebar dan ditonton banyak orang, itu pun yang terkenal pulau Belitung nya bukan pulau Bangka tempat tinggal kami...
street ferformance, musisi jalanan
     Selamat pagi jogja, hari yang baru untuk memulai sesuatu yang tak terlupakan? Apa yang kita lakukan hari ini, yang pertama mencari penginapan, kawasan ini terlalu jauh dari pusat keramaian jogja, saya mau coba mencari di sekitar kawasan malioboro saya dengar disana ada kawasan yang terkenal dengan area backpacker nya..tempat pelancong dari delapan penjuru mata angin dari seluruh dunia berkumpul..jalan sosrowijayan..dan kesanalah tujuan kami, jalan ini sangat melegenda, tentu saja legenda dikalangan pelancong berkantong cekak seperti kami..ternyata di jalan ini memang di seting sebagai kawasan wisata, semacam kampung wisata, banyak turis berlalu lalang, kulit putih, kulit hitam, kulit kuning, dan kulit seperti saya, tidak terlalu hitam, juga tidak putih, agak hitam hitam juga..kemudian banyak penginapan, hotel, guest house, homestay, dan losmen tersebar sepanjang ruas jalan ini, termasuk kedalam gang gangnya semua nya tempat menginap dan disewakan..agak berlebihan, tapi intinya kau dengan mudah akan mendapatkan penginapan disini, tentu saja murah..
     Dan saya dapat penginapan tidak jauh dari gerbang jalan sosrowijayan, saya lupa namanya, lokasi pinggir jalan depannya ada pagar besi bercat merah, ada nenek tua didepan penginapan nya, mungkin ibunya si bapak yang punya penginapan, setelah nego singkat didepan pintu bapak nya minta Rp 125.000 saya tawar seratus ribu, si bapak langsung deal..mungkin saya penawar terburuk didunia! kamar kami ada diatas lantai dua, sepertinya tinggal satu kamar yang kosong, lumayan nyaman, dua bed empuk, toilet dalam kamar dan tidak ada handshower buat cebok, apalagi buat mandi, menyedihkan kondisinya..tapi untuk menutupi fasilitas toiletnya yang buruk, ada televisi dikamar ini, saya bisa nonton berita penangkapan santoso di belantara poso..dan satu fasilitas lagi ada kipas angin! Dan bagian favorit saya adalah berandanya, cukup cantik ada kursi kayu, meja kayu, pahatan batu “The Last Supper” Nya Leonardo Da Vinci ,  ada jemuran juga..dan tentu saja pemandangan kota dari ketinggian lantai dua..tidak terlalu buruk juga untuk Rp 100.000.. Sepertinya Cuma ada tiga kamar dan Cuma dilantai dua saja sebab dibawahnya  semacam kafe tempat turis turis makan makan, minum tuak dan berengkerama dengan bahasa asing, yang membuat saya sedih mendengarnya, sebab saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan..
penginapan di jalan sosrowijayan
    Ini akan jadi hari terakhir saya di jogja, sebab besok akan meninggalkan kota ini melanjutkan pengembaraan sampai ke ujung tanah jawa, banyuwangi..pagi ini juga saya berencana membeli tiket ke stasiun lempuyangan,..saya ingat rencana awal perjalanan ini seharusnya tiba  distasiun ini bukan di terminal  giwangan, apa daya kehabisan tiket kereta ekonomi di stasiun kiaracondong bandung, jadilah kami harus berimprovisasi, meski meninggalkan sedikit tragedi  dengan angkot di bandung! Sebuah pelajaran yang harus terus kau ingat
        Dan inilah ternyata stasiun lempuyangan.. kawasan Lempuyangan yang merupakan wilayah yang sangat strategis. keberadaan Stasiun Lempuyangan sebagai pintu gerbang kawasan serta adanya jalan layang lempuyangan yang memperlancar arus transportasi  menjadi magnet berbagai aktivitas di kawasannya sehingga  muncul lah berbagai fasilitas komersial dan jasa yang menjadikan kawasan Stasiun Lempuyangan cenderung berkembang pesat..dampaknya kemacetan, menjamurnya parkir liar yang cukup mengganggu hak pengguna jalan, lingkungan menjadi kotor dengan banyaknya sampah-sampah karcis parkir yang berserakan di pinggir jalan. Masalah berikutnya PKL, terlihat di sepanjang ruas jalan Lempuyangan, menimbulkan kesan kumuh. Selain itu, warung warung  yang  juga tumbuh melebar ke pedestrian telah menggusur area pejalan kaki. mayoritas pejalan kaki di sekitar stasiun Lempuyangan adalah pengguna jasa kereta api. Fasilitas pedestrian sebenarnya sudah di sediakan tetapi karena adanya parkir liar baik motor maupun mobil dan kios-kios pedagang kaki lima yang menempati pedestrian itu membuat pejalan kaki memilih melewati jalan utama ketimbang lewat trotoar.
        saya pernah dimarahi ibu ibu depan stasiun, sebab duduk  depan warung kumuhnya, nunggu antrian tiket..dia marah sebab saya tidak jajan diwarungnya..
“mas..ini warung, bukan ruang tunggu, kalo mas nya mau duduk disini, ya mesti jajan dulu”
      mulutnya miring miring, matanya melotot seakan ingin menguyahku..saya mengalah dan beli air mineral, dan air mineralnya ketinggalan diwarung sebab terburu buru mengejar antrian..ah mengingatnya benar benar menyebalkan seolah tak ada ruang didunia ini selain materi yang jadi tujuan, salah duduk dimintai duit, salah jalan diminta duit, kencing, numpang isi ulang ponsel  kena duit juga,bahkan sholat di musola pun di suruh bayar..sedemikian kerasnya hidup sampai manusia begitu materialistis dibuatnya..
membludaknya calon penumpang dengan berbagai tujuan membuat antrian panjang di loket! Tapi tak perlu berdiri, ruang tunggu stasiun cukup luas dengan banyak tempat duduk, dan dilayar lcd tv yang cukup besar kita bisa memonitor nomor antrian kita, lengkap dengan panggilan operatornya..cukup teratur, bahkan sangat teratur, cenderung rumit dengan semua prosesnya, dimulai dengan mengambil dua nomor antrian di mesin pencetak nomor antrian, tinggal menekan tombol  lalu keluarlah nomor antriannya..satu untuk layanan konsumen seperti menanyakan jadwal, rute, harga dan ketersedian tiket, dan nomor antrian lainnya  untuk membeli tiket di loket..tidak  cukup sampai disitu,  kau harus mengisi formulir berisi data data calon penumpang maksimal empat orang untuk satu formulir, seperti no ktp, nama kereta, jadwal keberangkatan, kota asal dan tujuan dll, sebaiknya bawa pulpen sendiri, kau tak kan mau menghabiskan waktu menunggu antrian pulpen..formulir ini nantinya diberikan kepada petugas loket dan petugas loket akan mencetak tiket untuk kita, selesai..belum juga..kertas tiket yang kau dapat dari loket ada kode batangnya, gunanya  untuk check in mendapatkan boarding pass, caranya tempetkan kode batangnya ke mesin pembacanya, dan di layar monitor akan muncul data kita dan perintah cetak..klik cetak maka boarding passmu akan keluar dari mesin printer..warnanya oranye oranye begitu..dan kertas oranye inilah yang akan di periksa petugas saat akan naik dan didalam kereta nanti.. lebih runyam daripada naik pesawat! Dan seperti inilah jogja, di stasiun senen Jakarta cukup antri, bayar duit dapat kertas oranye yang kemudian hari saya baru tau namanya boarding pass! Berangkat..!
      Butuh setengah hari mengantri tiket,,benar benar buang waktu, saya dapat antrian no 74 bisa di bayangkan seperti apa rasanya, ada juga yang no antriannya 130,,parah! Sebenarnya  ada cara lebih efektif menghemat waktu, beli tiket di situs resmi PT KAI via internet, tinggal klik bayar di atm, dapat e-ticket, lalu print tiketnya,, selesai! Tak perlu antri macam di pangkalan minyak tanah.. tapi kendalanya, beli di internet mesti dua hari sebelum keberangkatan, tidak bisa pesan pas hari H nya, sementara perjalanan  kami  tidak bisa dipastikan kapan tiba, dan kapan akan berangkat, jadi kami tidak mau ambil resiko tiket hangus sebab sesuatu dan lain hal! Tak apa lah yang penting tiket sudah diamankan! Besok pagi berangkat pukul 07;00, KA SRI TANJUNG tujuan ahir stasiun banyuwangi baru seharga Rp 94.000,- ..sekarang saya mesti terburu buru kembali ke penginapan sebab ini hari jumat saya harus mempersiapkan diri untuk menunaikan sholat jumat, dan mencari masjid disekitar kawasan sosrowijayan..
semerawut
     Selepas jumat, siang yang terik, pakaianyang tadi pagi saya cuci kering dengan sempurna, lumayan sedikit menghilangkan baunya yang masam, saya memutuskan akan mengunjungi destinasi yang sekian lama saya simpan dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi, adalah candi prambanan, tak kalah eksotis dengan saudara tua nya candi Borobudur, sebab mereka berdua di bangun dalam kurun waktu yang berdekatan! Seperti biasa naik Trans Jogja rute 1A jurusan terminal prambanan, berbeda dengan bus trans jogja jurusan lainnya, bus yang ini masih baru, catnya biru, seperti trans bandung! Nyaman sebab ac nya  masih baru, tidak seperti bus trans jogja  hijau kuning yang  terlihat sudah tua! Mungkin sebab ini melayani rute penting melewati bandara adi sucipto dan candi prambanan yang adalah tujuan utama pariwisata jogja..ada saja turis asing yang akan kau temui saat menaiki rute ini,,tentunya ke candi prambanan..
Sampai terminal prambanan cukup jalan kaki sebab tidak terlalu jauh lokasi candi, gapura selamat datangnya pun sudah kelihatan,  tetapi menyeberang  harus hati hati, melewati  jalan raya dua jalur yang ramai kendaraan, truk truk besar dan macam macam mobil dengan kecepatan tinggi, terkadang harus menunggu cukup lama hanya untuk dapat kesempatan menyeberang..
     memasuki kawasan candi disambut dengan taman yang luas, dengan rindang pepohonan, tempat parkirnya juga luas! Menuju loket bayar tiket Rp 30.000 dan ramai manusia dari segenap penjuru dunia berkunjung ke candi  ini! Menelusuri jalanan kecil yang sudah diaspal, dipagari pepohonanan rindang serta hijau rerumputan terhampar rapi, tak berapa jauh berjalan sampai lah di pelatarannya dan sang putri roro jonggrang dengan cantiknya, anggun menawan menyambut kedatanganmu,,tegak menjulang , ramping benar benar cantik rupanya, sejenak saya merasa menjadi  bandung bondowoso yang terpukau akan kecantikan tak terperi dari sosok sang putri roro jonggrang dan dibutakan cinta sehingga menerima syarat apapun yang diajukannya demi mempersunting  sang putri , meski harus membangun seribu candi dalam semalam, mahar pernikahan yang sangat mustahil, tapi tidak bagi bandung bondowoso  yang sedang  dimabuk cinta..
       dan legenda menceritakan tegaknya monumen ini, langsing dan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi..simbol cinta yang terkhiati kebencian kemudian berubah menjadi angkara murka..demikianlah legendanya dituturkan dari mulut ke mulut sebagai dongeng pengantar tidur! Dan tidak sedikit di era digital sekarang  orang yang masih percaya kutukan bandung bondowoso masih bersemayam di candi ini, pasangan yang datang kesini akan dipisahkan oleh semesta! Seperti penuturan ibu paruh baya yang bercerita panjang lebar sepanjang perjalanan kereta kami ketika meninggalkan jogja, bercerita tentang kehidupan keluarganya, anak anaknya dan perceraian dengan suaminya setelah mengunjungi prambanan..
candi prambanan
     Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta memiliki 3 candi di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa melambangkan konsep Trimurti agama Hindu. Ketiganya  menghadap ke timur. Setiap candi punya satu candi pendamping menghadap ke barat, Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. juga masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.. Memasuki candi Siwa yang bangunannya paling tinggi, ada 4 ruangan, ruangan utama berisi arca Siwa, 3 ruangan yang lain berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga inilah yang dikenal sebagai Roro Jonggrang dalam legenda yang saya ceritakan tadi..
     Ada cerita menarik tentang cani prambanan, dimana ada sebuah candi dekat Candi Wisnu yang namanya candi garuda,ber kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang..dari sinilah asal muasal awal mula lambang NKRI, candi prambanan adalah inspirasi lambang Negara Indonesia..menjadikan candi ini sangat penting bagi sejarah republik ini..disekitar prambanan ternyata ada banyak candi candi tua, yang terkenal adalah candi ratu boko, sayang nya saya tidak punya kesempatan untuk mengunjunginya, sebab kekurangan informasi, Untuk mencapai Ratu Boko ternyata ada shuttle bus yang disediakan oleh pihak Taman Wisata Candi, Shuttle bus ini gratis bila kita membeli tiket terusan Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko, Rp 45.000..sayang seribu kali sayang..yang jaga loket juga tidak menawari saya tiket terusannya..
     Tapi tak apalah candi prambanan saja sudah membuat kami terkagum kagum akan kecantikan arsitekturnya, takjub akan pesona yang ditawarkannya, bahkan puing puingnya pun menawarkan eksotisme  dari masa lalu, roman sejarah kebijaksanaan para raja. meski ribuan tahun terkubur abu merapi, namun puingnya adalah jejak kehidupan, tak lekang oleh waktu, tak pudar dipapar masa, terpatri dihati para pencinta..
kuil cinta yang terkutuk
   senja berlalu, matahari menari di celah pahatan, semburat merah di cakarawala memahat senja bak lukisan para dewa..setangkup rindu dalam asa, terpatri dalam senyuman..aduhai engkau penakluk cintaku, biar kupahat namamu dalam parasati, lalu ku kubur dipusara hati...
Previous
Next Post »